
Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia (APDFI) Tahun 2025

Pada tanggal 11 hingga 13 November 2025, Universitas Bengkulu melalui Program Studi D-III Farmasi turut serta dalam pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia (APDFI). Kegiatan ini bertempat di Harris Hotel & Convention Festival Citylink Bandung dan dihadiri oleh para pendidik, praktisi, serta pemangku kepentingan lainnya dalam dunia pendidikan vokasi farmasi.
Tujuan Kegiatan
Rakernas APDFI 2025 bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi farmasi di Indonesia, khususnya melalui penyelarasan kurikulum, metode pembelajaran, dan praktik lapangan. Beberapa tujuan utama dari kegiatan ini antara lain:
- Meningkatkan kinerja APDFI untuk mendukung perguruan tinggi Diploma Farmasi di seluruh Indonesia.
- Menyelaraskan kurikulum farmasi agar lulusan memiliki kompetensi yang berdaya saing global.
- Mendorong implementasi kebijakan terbaru seperti Permendiktisaintek No 39 Tahun 2025 untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi farmasi.
- Membuka ruang pertukaran gagasan, pengalaman, dan inovasi antar pendidik, praktisi, dan stakeholder terkait.

Agenda dan Pembahasan
Acara Rakernas dimulai dengan registrasi peserta pada hari pertama, dilanjutkan dengan pembukaan yang diisi oleh para pemimpin APDFI dan tamu undangan, serta penandatanganan MoU dengan beberapa industri terkait.

Pembahasan fokus pada Permendiktisaintek No 39 Tahun 2025, yang membahas penjaminan mutu pendidikan tinggi, dipandu oleh Dr. Eng. Pipit Anggraeni. Sesi ini menekankan perubahan kebijakan penjaminan mutu yang mengharuskan Program Studi, termasuk D-III Farmasi, untuk memiliki standar Internal Quality Assurance yang lebih kuat, penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri, serta penguatan budaya mutu di perguruan tinggi.

Sesi selanjutnya membahas topik Kurikulum Vokasi, oleh Desutama Rachmat Bugi Prayogo, S.T., M.T., yang fokus pada pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Pada sesi ini dijelaskan struktur kurikulum vokasi modern, prinsip perancangan CPL–CPMK, rekonstruksi pembelajaran berbasis praktik nyata, serta urgensi link and match dengan dunia kerja.

Peserta juga mendapatkan pemahaman teknis mengenai Instrumen Akreditasi 8 Kriteria, dipandu oleh Dra. apt. Titiek Martati, M.Si, yang memberikan langkah-langkah praktis untuk mencapai akreditasi Unggul, termasuk analisis kriteria LKPS–LED, tata kelola mutu, pelaporan kinerja tridarma, serta evidencing yang sesuai standar LAM-PTKes.
Pembahasan juga mencakup strategi mahasiswa vokasi farmasi dalam menghadapi tantangan kesehatan global, dengan pembicara utama Prof. Dr. Mogana Sundari Rajagopal dari UCSI University. Topik ini mengulas tantangan kesehatan global seperti resistensi antimikroba, penyakit infeksi emerging, serta kebutuhan tenaga teknis farmasi yang memiliki soft skill dan hard skill kompetitif. Peserta diberi gambaran strategi penguatan kompetensi mahasiswa vokasi melalui peningkatan keterampilan komunikasi, critical thinking, literasi digital, dan kesiapan praktik di fasilitas pelayanan kesehatan internasional.

Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman tentang bagaimana mengelola pengetahuan untuk diterbitkan dalam jurnal akademik melalui sesi Managing Knowledge into Publishable Academic Journal oleh Prof. Ts. Dr. Nangkula Utaberta. Dosen vokasi diberikan gambaran dalam menulis dan menstrukturkan artikel ilmiah, mulai dari pemilihan topik, metode penulisan, etika publikasi, hingga strategi agar artikel diterima di jurnal bereputasi.
Topik mengenai materi Rational Self Medication Practices in Malaysia yang disampaikan oleh apt. Enti Hariadha, MSc. (Clin. Pharm) menyoroti bagaimana praktik swamedikasi rasional dapat mengurangi risiko medication error, meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, serta mendorong peran tenaga teknis farmasi dalam edukasi obat yang aman.

Topik berikutnya disampaikan oleh apt. Awal Prichatin Kusumadewi, M.Sc., berjudul Optimizing the Use of Traditional Medicine to Improve Community Health Status. Pembahasan ini menekankan peran penting pendidikan farmasi diploma dalam pemanfaatan obat tradisional secara aman dan bertanggung jawab. Dijelaskan pula regulasi keamanan jamu, integrasi pengobatan tradisional–modern, potensi industri herbal, serta kontribusi tenaga farmasi dalam pengembangan fitofarmaka dan dalam mendukung Gerakan Masyarakat Hidup sehat

Kegiatan Rakernas ditutup dengan sesi diskusi regional dan diakhiri dengan Gala Dinner yang bertujuan untuk mempererat hubungan antar anggota APDFI dan membahas hasil-hasil yang telah dicapai selama acara. Pada akhir kegiatan, peserta diberi sertifikat penghargaan untuk kinerja terbaik.

Kesimpulan
Rakernas APDFI 2025 memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan vokasi farmasi di Indonesia. Dengan adanya pembahasan tentang kurikulum, kebijakan pendidikan, dan tantangan kesehatan global, Rakernas ini menjadi platform yang penting untuk memajukan pendidikan farmasi di Indonesia agar siap bersaing di tingkat internasional.