
Tim D3 Farmasi UNIB Gelar Penyuluhan DAGUSIBU di Klinik Al-Wid Baroqah, Tingkatkan Kesadaran Pasien akan Penggunaan Obat yang Benar
Bengkulu – Tim dosen dan mahasiswa Program Studi D3 Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Bengkulu (UNIB), menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa penyuluhan tentang DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang) obat dengan benar. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 12 Maret 2026, di ruang tunggu Klinik Al-Wid Baroqah yang berlokasi di Jalan Raden Fatah No. 43 RT. 17, Kelurahan Pagar Dewa, Kecamatan Selebar, Kota Bengkulu.
Kegiatan penyuluhan ini merupakan bagian dari skema pengabdian mandiri semester Genap 2025/2026 dan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) serta SDG 4 (Pendidikan Berkualitas). Tim pengabdi diketuai oleh Oky Hermansyah, S.Far., M.Farm., Apt., dengan anggota Suci Rahmawati, S.Farm., Apt., M.Farm., Rose Intan Perma Sari, S.Farm., Apt., M.Farm., dan Apt. Tri Danang Kurniawan, S.Si, M.Farm. Kegiatan ini juga melibatkan dua orang mahasiswa, yaitu Tiara Cantika dan Annisa Nayla Septri.
Penyuluhan ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya masyarakat yang melakukan swamedikasi tidak tepat, menyimpan obat di tempat yang lembap atau terjangkau anak-anak, serta membuang obat kedaluwarsa ke tempat sampah biasa atau saluran air umum yang dapat mencemari lingkungan. Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara dengan tenaga kesehatan di Klinik Al-Wid Baroqah, ditemukan sejumlah permasalahan utama yang dihadapi pasien terkait pengelolaan obat mandiri di rumah. Mulai dari kebiasaan membeli obat keras tanpa resep, tidak memperhatikan aturan pakai, menyimpan obat di sembarang tempat, hingga praktik pembuangan obat yang tidak ramah lingkungan.
Penyuluhan Interaktif dengan Metode Partisipatif
Kegiatan penyuluhan dilaksanakan dengan metode partisipatif melalui ceramah interaktif, demonstrasi menggunakan alat peraga, serta diskusi dan tanya jawab. Sebanyak 16 orang peserta hadir mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, terdiri dari 14 perempuan dan 2 laki-laki dengan rentang usia 17–45 tahun. Sebagian besar peserta memiliki latar belakang pendidikan SMA (75%) dan sisanya berpendidikan diploma atau sarjana (25%).
Acara dimulai pukul 13.00 WIB dengan pembukaan dan perkenalan tim oleh moderator Oky Hermansyah. Selanjutnya, materi disampaikan secara bergantian oleh tiga pemateri. Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung sangat interaktif. Peserta mengajukan 10 pertanyaan yang relevan, terutama tentang cara membuang obat kedaluwarsa yang aman (4 pertanyaan), penyimpanan obat sirup setelah dibuka (3 pertanyaan), serta cara membedakan obat bebas dan obat keras (3 pertanyaan). Setiap pertanyaan dijawab secara tuntas oleh para pemateri.
Untuk mengukur pemahaman peserta, tim pengabdi melakukan evaluasi lisan dengan mengajukan 5 pertanyaan sederhana terkait materi DAGUSIBU. Hasilnya, rata-rata 97,6% peserta mampu menjawab dengan benar pertanyaan tentang logo obat, tempat penyimpanan yang tepat, dan prosedur pembuangan obat. Angka ini menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan dibandingkan dengan perkiraan awal tim yang hanya sekitar 40–50% berdasarkan wawancara pra-kegiatan.
Luaran Kegiatan dan Keberlanjutan Program
Kepala Klinik Al-Wid Baroqah, Widyawati, A.Md.Keb., S.ST., menyambut positif kegiatan ini. “Kami sangat terbantu dengan adanya penyuluhan ini. Pasien kami seringkali kurang memahami cara penggunaan obat yang benar. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat berlanjut dan menjadi program rutin,” ujarnya.
Kegiatan penyuluhan DAGUSIBU ini berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui promosi penggunaan obat yang rasional dan aman, serta SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan literasi kesehatan masyarakat.
Ketua tim pengabdi, Oky Hermansyah, berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat, terutama dalam hal kesadaran akan pentingnya pengelolaan obat yang benar. “Kami berharap ilmu yang telah disampaikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan obat yang tepat tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga lingkungan sekitar,” ujarnya.
Tim pengabdi juga memberikan sejumlah saran untuk keberlanjutan program, di antaranya menjadikan penyuluhan singkat tentang DAGUSIBU sebagai bagian dari prosedur penyerahan obat di apotek klinik, menyediakan wadah khusus untuk pengumpulan obat kadaluarsa dari pasien, serta mengembangkan video edukasi DAGUSIBU yang dapat diputar di ruang tunggu klinik.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat tentang penggunaan obat yang rasional dan aman semakin meningkat, sehingga tercipta masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera.

